Jumat, 10 Juli 2026

 

Menggerakkan Guru melalui Budaya Apresiasi untuk Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

Oleh: Kartini, S.Pd.

SLBN Kab.Bekasi

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka merupakan perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, pengorbanan, dan harapan. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak hanya diwariskan untuk dikenang, tetapi juga untuk diisi dengan karya nyata. Salah satu medan perjuangan yang paling menentukan masa depan bangsa adalah pendidikan. Di sanalah karakter, pengetahuan, dan kepemimpinan generasi penerus dibentuk. Ketika mendengar tema "Dari Ruang Kelas Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur," pikiran saya langsung tertuju kepada sosok guru. Selama ini, perhatian kita sering tertuju pada peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Namun, di balik keberhasilan mereka, terdapat guru yang setiap hari mengabdikan diri dengan penuh ketulusan. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan menjadi teladan.

Saya merasakan makna tersebut secara lebih mendalam setelah mendapat amanah sebagai kepala sekolah. Saat tulisan ini dibuat, masa pengabdian saya sebagai kepala sekolah baru memasuki bulan kesembilan. Waktu yang relatif singkat untuk sebuah kepemimpinan, tetapi cukup untuk memberikan banyak pelajaran berharga. Saya belajar bahwa memimpin sekolah bukan sekadar mengelola administrasi, menyusun program kerja, atau memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menggerakkan manusia yang ada di dalamnya. Pada awal masa kepemimpinan, saya memilih untuk lebih banyak mengamati daripada langsung melakukan perubahan besar. Saya berkeliling mengunjungi kelas, berdiskusi dengan guru, mendengarkan tenaga kependidikan, dan mencoba memahami budaya kerja yang telah terbentuk. Dari proses tersebut saya menemukan satu kenyataan yang sangat menyentuh. Banyak guru di sekolah saya bekerja dengan dedikasi yang luar biasa. Mereka datang lebih awal, mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan sungguh-sungguh, mendampingi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, bahkan rela meluangkan waktu di luar jam kerja untuk memastikan setiap anak memperoleh pelayanan pendidikan yang terbaik. Semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Namun, saya juga melihat bahwa kerja keras tersebut sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ketika seseorang bekerja dengan baik setiap hari, lama-kelamaan prestasi itu dianggap sebagai rutinitas. Padahal, di balik setiap keberhasilan pembelajaran terdapat usaha yang tidak sedikit. Guru membutuhkan pengakuan bahwa dedikasi mereka memiliki arti, bukan hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi masa depan peserta didik. Pengalaman inilah yang mendorong saya menggagas sebuah program sederhana, yaitu pemberian reward kepada guru berkinerja terbaik. Program ini lahir bukan karena sekolah memiliki anggaran besar ataupun ingin menciptakan persaingan antarguru. Sebaliknya, saya ingin membangun budaya apresiasi. Saya percaya bahwa penghargaan yang diberikan secara tulus dapat menjadi energi positif bagi seseorang untuk terus berkembang.

Bagi saya, reward bukan semata-mata hadiah. Reward adalah bentuk penghormatan terhadap profesionalisme. Guru yang menunjukkan disiplin, tanggung jawab, inovasi, dan komitmen layak mendapatkan apresiasi. Penghargaan juga menjadi pesan bahwa sekolah menghargai proses, kerja keras, dan keteladanan. Agar program ini diterima oleh seluruh warga sekolah, saya bersama tim menyusun indikator penilaian secara terbuka. Penilaian tidak didasarkan pada kedekatan ataupun penilaian subjektif. Beberapa aspek yang kami gunakan antara lain kedisiplinan hadir di sekolah, kelengkapan administrasi pembelajaran, kualitas pelaksanaan pembelajaran, kreativitas dalam menggunakan media belajar, kemampuan bekerja sama, serta partisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah. Dengan indikator yang jelas, setiap guru memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kinerja terbaiknya. Saya menyampaikan kepada seluruh guru bahwa tujuan utama program ini bukan mencari siapa yang paling hebat. Tujuan sesungguhnya adalah mengajak seluruh guru untuk terus bertumbuh bersama. Ketika satu guru berkembang, guru lain akan ikut termotivasi. Ketika semua guru berkembang, peserta didik akan memperoleh layanan pendidikan yang semakin berkualitas.

Penghargaan diberikan pada momen hari guru, dan saya akan lanjutkan saat apel atau pertemuan rutin sekolah. Guru yang terpilih menerima  penghargaan dan apresiasi dari sekolah di hadapan rekan-rekan sejawat. Nilai materi yang diberikan mungkin tidak besar, tetapi makna moralnya sangat mendalam. Saya masih mengingat ekspresi seorang guru ketika namanya diumumkan sebagai guru berkinerja terbaik. Dengan mata yang berkaca-kaca, beliau menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun mengajar, baru kali itu merasa jerih payahnya benar-benar dihargai. Kalimat sederhana tersebut memberikan pelajaran penting bagi saya. Ternyata, apresiasi memiliki kekuatan yang luar biasa. Penghargaan tidak hanya membahagiakan penerimanya, tetapi juga menumbuhkan semangat baru bagi seluruh warga sekolah. Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa kepemimpinan bukan tentang menunjukkan kekuasaan, melainkan tentang memberdayakan orang lain. Kepala sekolah tidak mungkin mengubah sekolah seorang diri. Perubahan hanya akan terjadi apabila guru merasa dipercaya, dihargai, dan diberi ruang untuk berkembang.

Dari pengalaman tersebut saya memahami bahwa ruang kelas bukan sekadar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Ruang kelas adalah tempat lahirnya karakter, kreativitas, dan kepemimpinan. Ketika guru memasuki kelas dengan semangat, peserta didik akan merasakan energi positif yang sama. Sebaliknya, ketika guru kehilangan motivasi, proses pembelajaran pun akan kehilangan maknanya. Karena itulah, membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur harus dimulai dengan membangun guru yang percaya diri, profesional, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Langkah itu mungkin tampak sederhana, tetapi saya percaya bahwa perubahan besar selalu berawal dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Sebagai kepala sekolah yang masih belajar menjalankan amanah ini, saya menyadari bahwa perjalanan masih panjang. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi dan masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Namun, pengalaman selama sembilan bulan pertama telah mengajarkan satu hal yang sangat penting. Ketika seorang pemimpin memilih untuk menghargai, bukan sekadar menilai, maka akan tumbuh semangat untuk terus memberikan yang terbaik. Dari sinilah saya percaya bahwa budaya apresiasi bukan hanya mampu meningkatkan kinerja guru, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya kepemimpinan guru yang akan membawa perubahan, mulai dari ruang kelas hingga bagi kemajuan Indonesia. Salah satu pelajaran paling berharga yang saya peroleh selama memimpin sekolah adalah bahwa seorang kepala sekolah tidak mungkin bekerja sendiri. Sebagus apa pun visi yang dimiliki, perubahan tidak akan terjadi apabila guru hanya menjadi pelaksana. Sebaliknya, perubahan akan tumbuh ketika guru diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin di ruang kelasnya masing-masing.

Pemahaman tersebut mendorong saya untuk melihat program reward bukan sekadar pemberian penghargaan, tetapi sebagai strategi membangun budaya kepemimpinan guru. Saya ingin setiap guru memiliki keyakinan bahwa kinerja yang baik akan diapresiasi, inovasi akan didukung, dan setiap usaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran memiliki arti bagi sekolah. Dalam pelaksanaannya, saya berusaha menjaga objektivitas. Guru yang memperoleh penghargaan bukan ditentukan karena kedekatan dengan kepala sekolah, melainkan berdasarkan indikator yang telah disepakati bersama. Kedisiplinan, kualitas pembelajaran, kelengkapan administrasi, inovasi, partisipasi dalam kegiatan sekolah, hingga kemampuan bekerja sama menjadi bagian dari penilaian. Keterbukaan menjadi kunci. Seluruh guru mengetahui bagaimana proses penilaian dilakukan. Dengan demikian, penghargaan tidak dipandang sebagai hadiah, melainkan sebagai hasil dari komitmen dan profesionalisme. Bagi saya, keberhasilan tersebut bukan semata-mata karena adanya media pembelajaran baru. Yang lebih penting adalah tumbuhnya rasa percaya diri pada diri guru. Ia merasa memiliki ruang untuk berkembang dan didengar oleh pemimpin sekolah. Dari situlah kepemimpinan guru mulai tumbuh. Saya percaya bahwa sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang memiliki satu pemimpin hebat. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang dipenuhi oleh guru-guru yang memiliki jiwa kepemimpinan. Ketika setiap guru merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan sekolah, berbagai tantangan akan lebih mudah dihadapi.

Sebagai kepala sekolah yang baru menjabat sembilan bulan, tentu saya masih memiliki banyak keterbatasan. Saya tidak datang dengan membawa semua jawaban. Justru saya memilih banyak mendengar. Saya berdialog dengan guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan peserta didik untuk memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan sekolah. Pendekatan tersebut mengajarkan saya bahwa kepemimpinan bukan tentang memberi perintah, melainkan tentang membangun kepercayaan. Ketika guru percaya bahwa pemimpinnya menghargai kerja keras mereka, guru akan bekerja bukan karena takut diawasi, tetapi karena memiliki kesadaran untuk memberikan yang terbaik. Inilah makna kepemimpinan yang sesungguhnya. Seorang pemimpin tidak berdiri paling depan untuk mendapatkan pujian, tetapi berada di tengah untuk menguatkan tim dan di belakang untuk mendorong setiap orang berkembang sesuai potensinya. Semangat inilah yang menurut saya sangat relevan dengan tema "Dari Ruang Kelas Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur." Indonesia yang berdaulat membutuhkan guru yang mampu melahirkan peserta didik yang mandiri, kreatif, dan berkarakter. Indonesia yang adil memerlukan pemimpin pendidikan yang memberikan kesempatan berkembang kepada setiap guru tanpa membedakan usia, masa kerja, maupun latar belakang. Indonesia yang makmur membutuhkan sekolah yang terus berinovasi agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.

Semua cita-cita tersebut tidak akan lahir hanya dari kebijakan di atas kertas. Semua dimulai dari ruang kelas. Semua dimulai dari guru. Dan semua dimulai dari keberanian seorang pemimpin untuk menghargai setiap langkah kecil yang dilakukan guru demi kemajuan peserta didiknya. Saya menyadari bahwa program reward bukan tujuan akhir. Penghargaan hanyalah jembatan untuk membangun budaya profesional, budaya saling menghargai, dan budaya terus belajar. Ketika budaya tersebut telah mengakar, sekolah akan memiliki energi untuk terus berkembang, bahkan tanpa harus selalu menunggu instruksi dari kepala sekolah. Bagi saya, keberhasilan terbesar bukanlah ketika seorang guru menerima penghargaan. Keberhasilan terbesar adalah ketika penghargaan itu menginspirasi guru lain untuk terus belajar, terus berinovasi, dan terus memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi peserta didik. Pada saat itulah kepemimpinan guru benar-benar hidup dan memberikan dampak yang nyata bagi sekolah maupun masa depan bangsa.

Sembilan bulan memimpin sekolah  masih merupakan langkah awal dalam perjalanan saya sebagai kepala sekolah. Saya masih terus belajar, memperbaiki diri, dan mencari cara terbaik untuk membawa sekolah menjadi tempat belajar yang semakin bermakna bagi peserta didik maupun guru. Namun, dari perjalanan yang singkat ini saya memperoleh satu keyakinan yang semakin kuat. Perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan yang besar. Perubahan sering kali lahir dari kepedulian terhadap hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. Program pemberian reward bagi guru berkinerja terbaik adalah salah satu langkah sederhana tersebut. Program ini bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang bagaimana sekolah membangun budaya saling menghargai, saling menginspirasi, dan saling bertumbuh. Saya percaya bahwa ketika seorang guru merasa dihargai, ia akan bekerja dengan hati. Ketika guru bekerja dengan hati, peserta didik akan belajar dengan semangat. Ketika peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, cerdas, dan mandiri, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan Indonesia. Pengalaman ini juga mengajarkan kepada saya bahwa kepemimpinan tidak lahir karena jabatan. Kepemimpinan tumbuh dari keteladanan, kepercayaan, dan kemampuan menggerakkan orang lain menuju tujuan yang sama. Seorang kepala sekolah tidak akan mampu menghadirkan perubahan tanpa guru-guru yang memiliki semangat untuk terus belajar dan berkembang. Oleh karena itu, tugas utama seorang pemimpin pendidikan bukan hanya mengelola sekolah, tetapi juga menciptakan lingkungan yang membuat setiap guru yakin bahwa dirinya mampu menjadi agen perubahan.

Saya membayangkan, jika budaya apresiasi seperti ini tumbuh di setiap sekolah di Indonesia, akan lahir ribuan bahkan jutaan guru yang semakin percaya diri untuk berinovasi. Mereka tidak lagi bekerja sekadar memenuhi kewajiban, tetapi terdorong oleh panggilan hati untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi setiap anak bangsa. Dari ruang-ruang kelas yang dipenuhi guru-guru seperti itulah akan lahir generasi yang mencintai tanah air, menghargai keberagaman, berpikir kritis, bekerja keras, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Makna inilah yang saya tangkap dari tema "Dari Ruang Kelas Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur." Kedaulatan bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi juga melalui kualitas manusia yang dibentuk oleh pendidikan. Keadilan terwujud ketika setiap guru memperoleh kesempatan untuk berkembang dan setiap peserta didik mendapatkan layanan pendidikan terbaik tanpa membedakan latar belakangnya. Kemakmuran akan menjadi kenyataan apabila sekolah berhasil melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Sebagai kepala sekolah yang masih berada pada awal perjalanan kepemimpinan, saya tidak mengklaim telah menghasilkan perubahan besar. Namun, saya percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik akan memberikan dampak yang berarti. Senyum guru yang merasa dihargai, semangat untuk terus belajar, budaya saling mendukung, dan meningkatnya komitmen dalam memberikan pembelajaran terbaik merupakan modal yang sangat berharga untuk membangun sekolah yang berkualitas. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Dahulu para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan dengan keberanian dan pengorbanan. Hari ini, perjuangan itu kita lanjutkan melalui pendidikan. Guru menjadi pejuang di ruang kelas. Kepala sekolah menjadi penggerak perubahan. Dan sekolah menjadi tempat lahirnya generasi yang akan menentukan arah masa depan bangsa. Saya percaya, ketika kepemimpinan guru tumbuh, budaya apresiasi mengakar, dan seluruh warga sekolah bergerak bersama, maka ruang kelas tidak hanya menjadi tempat belajar. Ruang kelas akan menjadi tempat lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu menjaga kedaulatan bangsa, mewujudkan keadilan sosial, serta menghadirkan kemakmuran bagi Indonesia. Karena pada akhirnya, membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Semua berawal dari seorang guru yang mengajar dengan sepenuh hati, seorang kepala sekolah yang menghargai setiap dedikasi, dan sebuah ruang kelas yang setiap hari menyalakan harapan bagi masa depan bangsa.


Jumat, 03 Juli 2026

PENGGUNAAN APLIKASI CANVA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS SURAT RESMI PADA SISWA KELAS XI TUNARUNGU


Pendidikan sejatinya merupakan kebutuhan dasar, dan setiap warga negara berhak mendapatkannya termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi " setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan ".

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan. Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing anak. Sekolah yang mewadahi pembelajaran bagi mereka adalah sekolah khusus, salah satunya Sekolah Luar Biasa (SLB). Di SLB para siswa, selain belajar keterampilan juga belajar akademik dari semua bidang studi seperti halnya di sekolah umum, termasuk belajar Bahasa Indonesia. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia salah satu  capaian pembelajarannya yaitu menulis teks surat resmi.

Menulis teks surat resmi merupakan salah satu keterampilan komunikasi yang penting bagi siswa, termasuk siswa tunarungu. Di SLB Negeri Bekasi Jaya, pengajaran keterampilan ini menjadi fokus untuk membantu siswa berkomunikasi secara efektif dalam lingkungan formal. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran ini adalah aplikasi Canva. Canva adalah platform desain grafis yang memudahkan pengguna untuk membuat berbagai jenis dokumen, termasuk surat resmi, dengan tampilan yang menarik. 

Dalam mengajar siswa dengan hambatan pendengaran (tunarungu) Kami dituntut kreatif dalam memberikan materi, sehingga siswa tak hanya mengerjakan tugas akademik, melainkan juga melakukan kegiatan menyenangkan agar motivasi belajar siswa tetap tinggi. Maka dari itu kamipun berusaha untuk membuat strategi pembelajaran yang semenarik mungkin agar bisa mengikuti pembelajaran dengan semangat.

Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasai di akhir kegiatan. (kompasiana.com).

Dalam dunia pendidikan, strategi bisa diartikan sebagai suatu cara atau metode kegiatan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Jadi definisi strategi pembelajaran bisa diartikan sebagai sebuah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu. ( zonareferensi.com)

Dalam kesempatan ini Strategi yang kami ambil adalah metode demonstrasi, tanya jawab dan praktek. Demonstrasi yaitu metode pembelajaran yang menyajikan materi pelajaran pada siswa dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses atau cara. Tanya jawab dengan melakukan percakapan yang disertai dengan gerak isyarat SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia), mengingat siswa yang kami ajarkan adalah anak-anak yang memiliki hambatan pendengaran.

Topik yang kami ambil dalam pembelajaran kali ini adalah tentang teks surat resmi, dan indikatornya adalah membuat teks surat resmi melalui aplikasi Canva. Canva adalah aplikasi desain grafis yang menjembatani penggunanya untuk dengan mudah merancang berbagai jenis material kreatif secara online. Mulai dari mendesain surat, kartu ucapan, poster, brosur, infografik, hingga presentasi.

Adapun manfaat dari Aplikasi Canva diantaranya: Canva menyediakan berbagai template surat resmi yang dapat dipilih oleh siswa. Dengan desain yang menarik, siswa lebih ter motivasi untuk menulis dan belajar tentang struktur surat resmi. Antarmuka Canva yang intuitif memungkinkan siswa tunarungu untuk memahami dan menggunakan aplikasi ini dengan cepat, tanpa memerlukan keterampilan teknis yang mendalam. Melalui Canva, siswa dapat belajar tentang elemen-elemen penting dalam surat resmi, seperti alamat, tanggal, salam pembuka, isi surat, dan penutup. Visualisasi ini membantu siswa memahami struktur dan format yang benar. Siswa dapat bekerja sama dalam kelompok untuk membuat surat resmi, membahas isi dan format nya. Setelah selesai, mereka dapat mempresentasikan hasil karya mereka kepada teman-teman, yang membantu meningkatkan keterampilan berbicara dan percaya diri. 

Tujuan dari pembelajaran ini adalah agar , siswa dapat membuat berbagai macam surat resmi melalui aplikasi Canva. Reaksi para siswa menerima materi ini adalah sebagian besar mereka bersemangat dan senang. Mereka umumnya anak-anak yang suka akan hal-hal baru, aplikasi canva adalah hal baru yang mereka kenal saat ini,  pengoprasiannyapun mudah dan simple, namun tetap dituntut kreatifitas dan nilai seni didalamnya.

Tahap pembelajaran yang di lakukan yaitu: Guru menjelaskan tentang teks surat resmi, fungsinya, dan strukturnya. Siswa juga diperkenalkan pada aplikasi Canva dan cara penggunaannya. Siswa diberikan tugas untuk membuat surat resmi dengan menggunakan template di Canva. Mereka dapat memilih tema yang relevan, seperti surat permohonan, surat undangan, atau surat pengantar. Setelah siswa selesai membuat surat, sesi diskusi dilakukan untuk memberikan umpan balik. Guru dapat memberikan masukan tentang isi dan desain surat yang dibuat, serta mendiskusikan kesalahan umum yang harus dihindari. Untuk mengapresiasi hasil kerja siswa, diadakan pameran di mana siswa dapat memamerkan surat resmi yang telah mereka buat. Ini tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri, tetapi juga menunjukkan kemajuan mereka dalam menulis.

Refleksi dari kegiatan pembelajaran di atas adalah, kami telah melakukan penyesuaian rencana pembelajaran sebaik mungkin disesuaikan dengan kondisi siswa saat ini. Sedangkan kelemahan dalam pembelajaran ini adalah ada beberapa siswa yang terkendala dalam mendownlod aplikasi karena keterbatasan ruang di handpond dan keterbatasan kuota.

Hal yang kami lakukan untuk mengatasi semua kendala di atas yaitu dengan mengajak orang tua untuk lebih memotivasi ,memfasilitasi dan membantu anak-anaknya dalam kegiatan pembelajaran ini. Untuk masalah keterbatasan ruang dalam mendownlod aplikasi, meminta kesediaan orang tua atau anggota keluarga lainnya yang memiliki handpon agar mau meminjamkan handponnya untuk sementara waktu saat pembelajaran. Dan alhamdulillah mereka pun merespon dengan baik. Selain dari itu pihak sekolah juga memasang jaringan internet (WIFI) yang dapat di akses oleh semua peserta didik.  

Penggunaan aplikasi Canva dalam pembelajaran menulis teks surat resmi di SLB Negeri Bekasi Jaya memberikan banyak manfaat bagi siswa kelas XI tunarungu. Dengan desain yang menarik, kemudahan penggunaan, dan pendekatan kolaborasi, siswa dapat lebih mudah memahami dan mempraktikkan keterampilan menulis surat resmi. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya meningkatkan kemampuan menulis mereka, tetapi juga percaya diri dalam berkomunikasi dalam konteks formal. Implementasi teknologi dalam pendidikan, seperti Canva, menjadi langkah positif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah luar biasa.



"Kepemimpinan Berbasis Prakarsa Perubahan"


Tujuan Program:

1. Meningkatkan keterampilan kepemimpinan siswa tunarungu.

2. Memfasilitasi prakarsa perubahan positif di sekolah dan komunitas.

3. Membangun kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi siswa.

 

Tahapan Program:


1. Pengenalan Kepemimpinan (Minggu 1-2)

Workshop : Memperkenalkan konsep kepemimpinan dan karakteristik pemimpin yang baik.

Aktivitas : Diskusi kelompok tentang contoh pemimpin yang menginspirasi.

Media : Video dan gambar untuk menjelaskan materi dengan jelas.

 

2. Identifikasi Masalah (Minggu 3)

Diskusi Kelas : Mengajak siswa untuk mengidentifikasi masalah yang  

mereka hadapi di sekolah atau komunitas.

Penggunaan Alat Visual : Menggunakan poster atau papan tulis untuk

menuliskan masalah-masalah yang diidentifikasi.

 

3. Pengembangan Ide (Minggu 4-5)

Sesi Brainstorming : Membantu siswa untuk mengembangkan ide-ide solusi    

untuk masalah yang telah diidentifikasi.

Pemilihan Ide : Siswa memilih satu ide yang paling relevan dan  

berpotensi untuk diterapkan.

 

4. Perencanaan Aksi (Minggu 6)

Membuat Rencana : Siswa membuat rencana aksi yang mencakup  

langkah-langkah konkret untuk menerapkan solusi.

Pembagian Tugas : Mengatur peran masing-masing anggota kelompok

dalam melaksanakan rencana.

 

5. Implementasi (Minggu 7-8)

Pelaksanaan Rencana: Siswa melaksanakan rencana yang telah dibuat, seperti proyek kebersihan lingkungan, kampanye kesadaran, atau kegiatan sosial.

Dokumentasi: Mengambil foto dan video untuk mendokumentasikan kegiatan.

 

6. Evaluasi dan Refleksi (Minggu 9)

Sesi Diskusi: Diskusikan apa yang berhasil dan tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan.

Refleksi Individu: Siswa menulis jurnal tentang pengalaman mereka dan keterampilan yang mereka kembangkan.

 

7. Presentasi Hasil (Minggu 10)

Pameran: Mengadakan pameran untuk mempresentasikan hasil proyek kepada teman-teman, guru, dan orang tua.

Penghargaan: Memberikan penghargaan kepada siswa yang berkontribusi aktif dalam proyek.

 

Metode Pengajaran:

Interaktif: Menggunakan metode pengajaran yang melibatkan siswa, seperti diskusi kelompok, permainan peran, dan simulasi.

Visual: Menggunakan alat bantu visual, seperti gambar dan video, untuk menjelaskan konsep-konsep dengan lebih baik.

 

Sumber Daya yang Dibutuhkan:

- Ruang kelas atau tempat yang memadai untuk kegiatan.

- Alat bantu visual (poster, video).

- Alat tulis dan bahanpresentasi

- Waktu untuk sesi pelatihan dan implementasi.

 

Evaluasi Program:

- Mengumpulkan umpan balik dari siswa tentang pengalaman mereka.

- Menilai peningkatan keterampilan kepemimpinan dan kolaborasi siswa melalui observasi selama kegiatan.

 Berikut contoh kegiatan programnya:



 

Senin, 24 Maret 2025

Kisah Dua Ekor Kucing

Dua ekor kucing ini awalnya tiga bersaudara. Suatu hari ketika mereka sedang asik bermain di jalan depan rumah tuannya, tiba-tiba tanpa sengaja mobil tuannya menabrak salah satu anak kucing ini. Saat kejadian ibu si kucing melihat kejadian itu. Entah syok melihat anaknya celaka atau kenapa, setelah si anak kucing dimakamkan, ibunya ikut meninggal, bukan karena tertabrak. Meninggal tiba-tiba. Akhirnya tuannya langsung menguburkan ibu dan si anak kucing. 

Kini tinggallah mereka berdua. Meskipun saudara dan ibunya telah tiada mereka tetap ceria dan hidup rukun di rumah tuannya. Tuannya pun sangat menyayangi mereka. 

Dari kisah ini kita belajar, janganlah terlalu larut dalam kesedihan. Meski sudah ditinggalkan masih ada yang setia menemani. 

Kamis, 17 Oktober 2024

     Profil SLB Negeri Bekasi Jaya




Sekolah Luar Biasa Negeri  (SLBN) Bekasi Jaya adalah sekolah yang melayani peserta  didik dengan hambatan pendengaran (tunarungu) ,hambatan kecerdasan (tunagrahita) dan hambatan penglihatan (tunanetra) yang berada dalam pengelolaan satu atap yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Dalam menjalankan tugasnya, kepala sekolah dibantu wakil-wakil kepala sekolah.

Jumlah  peserta didik di jenjang SDLB sebanyak 102  orang, dengan rincian hambatan pendengaran 44 orang, hambatan kecerdasan 54 orang dan hambatan penglihatan 4 orang. Jumlah pendidik sebanyak 42 orang memiliki latar belakang Pendidikan Sarjana Pendidikan Khusus dan 2 orang guru bidang studi. Sedangkan  jumlah tenaga kependidikan sebanyak 9 orang, yang meliputi 1 orang bagian operator, 1 orang administrasi, 4 orang  pelaksana TU, dengan latar belakang Pendidikan S2, S1, dan SMA.

SLB Negeri Bekasi Jaya terletak di dalam perumahan Bekasi Jaya Indah Jalan Mahoni Raya No.1. Letak tersebut memungkinkan sekolah dapat dikenal oleh masyarakat dan memiliki nilai promosi yang baik karena sekolah negeri dan banyak peminatnya. Sekolah juga terletak di daerah yang mayoritas penduduknya memahami dan mengutamakan pendidikan. Letak sekolah terbilang strategis dekat ke jalan raya, sekitar sekolah terdapat SD Negeri, SMP Negeri, SMA Negeri dan SMK Negeri. Lingkungan sekolah berada dekat dengan pusat keramaian, sarana kesehatan, olahraga dan   keagamaan sehingga menjadi salah satu kekuatan pendukung dalam proses pembelajaran.

Latar belakang peserta didik berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah, namun demikian sekolah berusaha untuk meningkatkan sarana prasarana yang  cukup memadai dalam mendukung proses pembelajaran baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler dengan menggunakan anggaran BOS dan BOPD.

Secara sosial budaya, peserta didik memiliki latar belakang orang  tua yang berbeda budaya karena perbedaan  suku bangsa. Selain itu minat, bakat, dan karakteristik peserta didik juga sangat beragam. Berdasarkan perbedaan latar belakang tersebut maka memperkuat alasan Profil Pelajar Pancasila harus diimplemetasikan secara utuh di  SLB Negeri Bekasi Jaya.

Tujuan akhir capaian pembelajaran yang terintegrasi dengan Profil Pelajar Pancasila secara umum adalah untuk membentuk karakter peserta didik dalam menumbuhkan iman, taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, bernalar kritis, bergotong royong dan kreatif dengan mengakomodir keragaman tersebut. 

Selain karakteristik sekolah seperti tertera di atas, SLB Negeri Bekasi Jaya melaksanakan kegitan ekstrakurikuler yang beragam dengan instruktur yang berkompeten di bidangnya, seperti Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib, melukis, menari, atletik, bulu tangkis, pencak silat (taekwondo), tenis meja,dan IT.

SLB Negeri Bekasi Jaya juga sudah bekerjasama dengan dunia usaha dalam menyalurkan tenaga kerja yaitu dengan PT.OMRON, PT. Nurvan Kreatif dan Balai Besar Vokasi Kementrian Tenaga Kerja Indonesia yang terletak di kota Bekasi. Hal ini  menjadi salah satu daya tarik masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SLBN Bekasi Jaya.


VISI DAN MISI 

1. VISI
Visi yang dimiliki SLB Negeri Bekasi Jaya diturunkan dari tujuan nasional pendidikan di Indonesia yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Adapun visi SLB Negeri Bekasi Jaya adalah sebagai berikut :
“Dengan iman dan taqwa SLBN Bekasi Jaya siap meningkatkan pengetahuan, kemandirian dan keterampilan peserta didik  yang berkarakter dalam menghadapi tantangan di tingkat  yang lebih tinggi dan di masyarakat melalui merdeka belajar tahun 2028”
2. MISI
Dalam upaya mengimplementasikan visinya SLBN Bekasi Jaya  menetapkan misi sebagai berikut:
1. Meningkatkan pengetahuan dan kemandirian untuk melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi

 

2. Meningkatkan kemandirian dan melatih peserta didik untuk memiliki satu keterampilan / vokasional

3. Meningkatan keterampilan menuju kemandirian dalam menghadapi dunia kerja

4. Membentuk kepribadian peserta didik sesuai pendidikan karakter (relegius, mandiri,integritas, nasionalis, gotong royong)

5. Mendidik peserta didik untuk memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga menjadi lulusan yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual,beriman dan berakhlak mulia melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan sesuai dengan kemampuan dan karakteristik kebutuhan khususnya

6. Meningkatkan peran serta warga sekolah dalam perilaku jujur, hidup bersih dan sehat,rukun dan peduli lingkungan


Minggu, 11 Desember 2022

Sambutan Sosialisasi Implementasi Kurikulum Merdeka, Pengembangan Kurikulum dan Informasi TRK.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat Kepala SLB Negeri Bekasi Jaya Kota Bekasi. Bapa Gaos Masupraja,S.Pd,MM.

Yang saya hormati Bapak dan Ibu Kepala Sekolah SLB Kota Bekasi.

Serta rekan-rekan guru peserta sosialisasi yang berbahagia.

Pertama-tama, marilah kita bersyukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul di acara Sosialisasi Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), Pengembangan Kurikulum dan Informasi TRK ini dalam keadaan sehat walafiat.

Bapa/Ibu yang berbahagia,

Saya selaku ketua panitia Penyelenggara mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Bapa/Ibu yang telah datang di acara ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah serta rekan-rekan yang telah membantu dalam penyelenggaraan acara ini.

Tujuan kami menyelenggarakan acara ini, yaitu untuk berbagi hasil dari Bimtek, workshop maupun pelatihan yang didapat rekan-rekan kita. Agar apa yang rekan-rekan kita sudah dapatkan dapat lebih bermanfaat bagi kita semua dan untuk peserta didik kita pada khususnya.

Bapa/Ibu yang berbahagia,

Mari kita ikuti acara ini dengan baik agar dapat berlangsung dengan lancar, dan kita dapat memetik manfaat.

Akhir kata, jika ada kekurangan dalam penyelenggaraan acara ini, kami mohon maaf. Selamat mengikuti acara ini dan semoga bermanfaat.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Minggu, 13 November 2022

Temu Sapa BBGP Jawa Barat dengan Komunitas Belajar

Temu Sapa BBGP Provinsi Jawa Barat dengan Komunitas Belajar di Seluruh Kabupaten dan Kota Provinsi Jawa Barat.

Senin, 14 November 2022. Bertempat di Nuansa Hotel, Cikarang. Dalam rangka mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen talenta, Kemendikbud pada tahun 2019 mengembangkan program Merdeka Belajar.

Program ini dicetuskan sebagai langkah awal melakukan lompatan di bidang pendidikan.

Pada kegiatan hari ini di ikuti oleh para Pengawas, Kepala Sekolah dan guru-guru perwakilan dari Komunitas Belajar dari TK,SD,SMP,SLB,SMA dan SMK dari wilayah Cabang Dinas II dan III (Depok dan Bekasi).

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan BBGP Provinsi Jawa Barat, menjalin kemitraan dengan Komunitas Belajar dan mempererat sinergi dan hubungan kerja sama yang semakin baik dengan pemangku kepentingan di tiap kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat.

Rangkaian acara kegiatan ini di mulai pukul 08.00 sampai 15.00.
Adapun agenda kegiatan tersebut di antaranya yaitu di mulai dari registri para peserta pukul 08.00-08.30. Setelah registrasi para peserta masuk ruangan dan menempati tempat duduk masing-masing. Acara dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, laporan ketua panitia dan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama dari Plt. Kepala Dinas Kabupaten Bekasi, Sambutan dari Kepala Cabang Dinas Wilayah III dan terakhir sambutan dari Kepala BBGP Jawa Barat. 

Selesai sambutan kegiatan dilanjutkan dengan paparan materi dari masing-masing Pokja. Masing-masing Pokja tersebut di antaranya: Pokja Kemitraan dan Pemberdayaan Komunitas, Pokja Transformasi Sekolah, Pokja Transformasi Kepemimpinan Sekolah, Pokja Pembelajaran dan Pokja Tranformasi Digital.